Romantisme Pawon


pawon di rumah teman saya

Ketika kelak saya berrumah tangga dan memiliki rumah sendiri, perabot yang pertama kali ingin saya miliki adalah pawon. Pawon, yang dalam bahasa indonesia adalah tungku, merupakan instalasi pengapian yang diciptakan sedemikian rupa sehingga menghasilkan fungsi ganda: sebagai peranti untuk memasak sekaligus sebagai pemanas ruangan. Pawon lazim didapati di dapur rumah-rumah orang di desa. Rumah simbah kami adalah salah satunya.

Bagi saya, membicarakan pawon bukan melulu membahas urusan dapur. Ia lebih dari sekedar sarana untuk memasak -yang notabene cumalah penunjang kebutuhan perut belaka. Pawon lebih dari itu semua. Bagi saya, pawon adalah nilai.

Jujur saja, saya memiliki kenangan romantik terhadap benda ini. Sejak kecil, saya dibiasakan bangun tidur ketika hari subuh. Sebagai bocah, bangun di waktu subuh adalah hal yang begitu berat. Lebih-lebih secara geografis desa kami termasuk dataran tinggi, yang oleh karena itu udara di sini menjadi sangat dingin di kala pagi. Sementara di depan rumah kami, menghampar sawah yang cukup luas. Sehingga angin bertiup semribit langsung ke arah rumah kami tanpa ada penghalang bangunan dan pepohonan. Kondisi yang begini membuat keberadaan pawon terasa begitu berarti bagi orang-orang di rumah kami.

Mendiang nenek saya selalu bangun sebelum kumandang adzan subuh. Hal yang ia lakukan pertama kali setelah mengambil wudlu adalah mengisi dandang dengan air gentong. Kemudian beliau lekas-lekas daden geni, menyalakan api di pawon. Daden geni di pawon tidak segampang menyentuh pemantik pada kompor gas yang sekali tekan lalu api menyala. Daden geni membutuhkan waktu dan keterampilan tersendiri. Salah-salah, api tidak menyala dan malah menghasilkan banyak sekali asap yang akan meninggalkan bau sangit di sekujur rumah. Tapi nenek saya adalah expert di bidang ini.

Menyalakan api di pawon, kecuali perkara teknisnya, komposisi bahan bakar juga mempengaruhi bagaimana nyala api nanti. Bahan bakar pawon biasanya berupa blarak (daun kelapa kering) dan blungkang (pelepah kelapa kering). Tapi kami lebih sering memanfaatkan kayu sisa rambanan yang sudah kering. Kayu sisa rambanan ini adalah bagian yang tidak dimakan kambing peiharaan bapak di kandang belakang rumah. Setelah dedaunan habis dimakan kambing, reranting inilah yang kemudian dihimpun lalu diangkat ke pogo. Pogo merupakan para-para yang berada persis di atas pawon sebagai pengering kayu bakar memanfaatkan hawa panas asap pawon.

Setelah saya bangun tidur, ibu saya selalu menggiring saya ke kamar mandi untuk segera berwudlu. Ketika ibu tidak melihat, saya sering mencuri kesempatan mlipir sejenak di depan pawon untuk gegeni. Setelah tubuh terasa cukup anget, barulah saya mengambil wudlu, tentu saja dengan kilat dan ogah-ogahan. Setelah wudlu, saya yang seharusnya bergegas menuju musalla malah lagi-lagi mampir di pawon dulu. Baru kemudian setelah mendengar iqomat, saya langsung berlari menuju musola.
Selepas sembahyang subuh, saya tidak sibuk berwirid sebagaimana jamaah kebanyakan. Saya  memilih buru-buru pulang. Ingin segera menggarang tubuh di depan pawon sambil duduk di atas dingklik.

Tak berselang lama kemudian, orang tua saya akan pulang dari masjid. Orang tua saya juga akan duduk di depan pawon sambil menderas al-quran. Sementara saya diajari menghafal surat-surat pendek. Pada titik ini, air yang dimasak nenek saya tadi biasanya sudah matang. Nenek akan mengisi teremosnya dan sejurus kemudian membuatkan teh atau kopi panas untuk kami yang tengah mengaji.

Sekira pukul setengah enam pagi, kami sudah selesai mengaji. Paman-paman saya dan sesekali tetangga sering ada yang datang ke rumah untuk duduk dan sama-sama gegeni. Nenek saya akan membuatkan minuman kepada siapa saja yang datang. Mereka boleh membicarakan apa saja. Sebagai anak kecil, saya tidak bisa menikmati obrolan mereka, namun saya menikmati kehangatan berada di lingkaran ini, saya menikmati peristiwa komunikasi ini.

Pada waktu-waktu hari raya, anak-anak simbah yang berada di luar kota akan datang. Mereka akan berkumpul dan saling bercerita. Kendati rumah simbah terbilang cukup luas, namun di hanya di depan pawonlah mereka memilih berkumpul untuk saling melunasi kerinduan masing-masing.
Saya merasakan bahwa pawon seperti memancarkan gelombang. Ia bisa menarik siapa saja yang merindukan kehangatan. Jika dianalogikan sebagai tubuh, pawon adalah jantung di dalam rumah yang disanalah keluarga merasakan utuh dan hidup.

Kini pawon sudah banyak ditinggalkan. Perannya telah tergantikan oleh kompor gas yang jauh lebih ringkas, efektif, dan mutakhir. Sayangnya kompor gas hanya menggantikan peran pawon sebagai sarana untuk memasak. Tradisi duduk bersama sambil mengobrol dengan keluarga dan tetangga mulai hilang. Mula-mula fasilitas ini tergantikan oleh televisi. Mereka yang duduk bersama di depan pawon mulai beralih duduk-duduk di hadapan televisi, sambil tetap sesekali mengobrol. Namun akhir-akhir ini, televisi tidak semenarik dulu. Smartphone telah mengubah kami menjadi sesuatu yang lain.

Di era smartphone ini, saya kadung terbawa arus ikut-ikutan menjadi manusia ponsel. Yang mudah resah ketika ponsel berada jauh di jangkauan. Namun, saya masih merindukan romantisme di depan pawon seperti dahulu. Oleh karena itulah ketika kelak saya berkeluarga dan memiliki rumah, saya akan membuat pawon dan, mudah-mudahan mampu mengulangi tradisi lalu. Setidaknya untuk keluarga kecil saya.


9 komentar untuk "Romantisme Pawon"

  1. Pawon memiliki banyak kenangan terutama saat bangun tidur yg dicari anget anget dekat bara api sambil korak korek dolanan geni. Tiup tiup pakai semprong bambu walau bau asap menyengat luweh mergo meh adus. Paling tak senengi njupuk uyah cemplungke ning geni munine preketek preketek wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. persis mas.. kadag matane dadi pedes tapi tetep ra kapok

      Hapus
  2. lha yo nek bojomu punya idealisme sama mas broh....

    BalasHapus
  3. Wahh semoga ntar ada pawon yang ndak bikin batuk mas asapnya..baca artikelmu kayak baca cerpen, uapiiik...

    BalasHapus

Posting Komentar

Berlangganan via Email