Turn Back Hoax: Menghalau Hoax Dengan Cerdas Bermedia Sosial



www.habib.web.id -  Turn Back Hoax: Menghalau Hoax Dengan Cerdas Bermedia Sosial

Pagi itu pendopo rumah dinas bupati kabupaten Semarang nampak ramai. Keramaian itu adalah dominasi remaja berseragam sekolah dan berjaket almamater kampus. Hari itu, Sabtu 4 Februari 2017, mereka akan bersarasehan sehat dan cerdas bermedia sosial. Selain pelajar dan mahasiswa, hadir juga komunitas-komunitas yang ada di Ungaran dan sekitarnya.

Sebenarnya, saya sudah mengetahui acara ini sejak lebih kurang seminggu yang lewat. Informasi tentang acara ini saya dengar dari mas Pras yang kebetulan merupakan ketua Komunitas Ambarawa. Namun, kali pertama saya mendengar agenda ini, saya tidak langsung mengkonfirmasi pasti ikut. Saya tau diri bahwa acara tersebut bakal digelar di hari sabtu, dan pada hari-hari akhir pekan, biasanya saya banyak di rumah. Saya musti melayani teman-teman yang hendak menyewa alat perlengkapan mendaki gunung di basecamp Omah Petualang. Karena hanya pada akhir pekanlah peralatan camping banyak yang keluar.

Setelah hari itu, tidak ada lagi percakapan soal acara ini. Baru ketika saya melihat jadwal saya, kebetulan pada pagi yang sama saya ada pekerjaan mengirim katering aqiqahan di Perumda Ungaran, titik ini tidak jauh dari tempat sarasehan diselenggarakan, hanya sekira lima menit perjalanan gas tipis-tipis. Kebetulan berikutnya adalah beberapa teman yang memesan tenda dan perlengkapan lain akan mengambil alat-alat itu pada sore hari. Jadi, sabtu pagi hingga siang saya nganggur. Maka skenario saya adalah menitipkan mobil di rumah simbah saya, yang -kebetulan lagi- juga tidak jauh dari Perumda, lantas mencegat Mas Pras untuk mbonceng sampai ke Pendopo rumah dinas bupati.

Sampai di lokasi, acara sudah dimulai. Pemateri pertama sudah sedang bersiap menjadi pembicara. Saya dan Mas Pras duduk di sayap kanan. Rupanya, di depan kami duduk telah bercokol lebih duluan Imam Mambrenk, ketua pengelola objek wisata Lereng Kelir, ia datang bersama kedua temannya.

Persis ketika kami duduk, pemateri pertama berdiri dan memulai ceramahnya. Ia adalah Bowo Pribadi, seorang wartawan Republika. Dalam paparanya yang ia beri judul "Hoax dan Jurnalisme", mas Bowo menyampaikan macam-macam jenis dan media hoax. Menurutya, hoax bisa berupa tekstual, lisan, bahkan visual.

Mas Bowo sedang menyampaikan materi

Ia memberi contoh ketika peristiwa bom Thamrin beberapa waktu lalu, pada waktu itu beredar banyak foto hoax. Diantaranya mas Bowo menunjukkan foto perempuan berhijab sedang berswafoto dengan latar belakang pelaku aksi teror. Foto tersebut ternyata adalah hasil rekayasa digital dengan cara menggabungkan dua foto menjadi satu foto. Dalam dunia fotografi jurnalistik, visual tersebut merupakan kebohongan.

Di ujung sesi ini, sebetulnya saya ingin sekali bertanya sesuatu. Namun moderator buru-buru menyampaikan kalau sesi bertanya jawab akan dilakukan nanti setelah ketiga pemateri selesai berbicara. Maka saya memilih untuk membuka kaleng minuman dan kembali mengunyah camilan saja.

Pemateri kedua adalahSeptiaji Eko Nugroho. Mas Aji merupakan ketua Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Mafindo sendiri adalah satu dari tiga penginisiasi acara ini selain FKKWS (Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang), dan CCAI (Coca Cola Amatil Indonesia).

Mas Aji memberi judul ceramahnya dengan "Fenomena Hoax dan Mitigasinya". Menurut mas Aji, yang membuat hoax marak terjadi di Indonesia, salah satunya adalah karena budaya literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. Malah saking rendahnya, dunia mengakui "prestasi" masyarakat Indonesia dengan mengganjarnya peringkat kedua dari bawah dari 61 negara sebagai masyarakat yang paling ogah membaca. Masyarakat Indonesia jauh lebih gemar ngrumpi katimbang membaca buku!

Kebanyakan netizen di Indonesia jarang melakukan klarifikasi berita. Semua informasi, baik fakta maupun fiksi, ditelan mentah-mentah sekaligus bulat-bulat. Dan celakanya, semua yang mereka terima, akan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Di tengah ceramahnya, mas Aji mengenalkan beberapa aplikasi. Diantaranya adalah aplikasi Turn Back Hoax. Aplikasi yang berbasis web dan Android itu membuat pengguna dapat mengakses contoh berita Hoax dari pelbagai situs.

Setelah mas Bowo dan mas Aji memaparkan materinya, kali ini giliran  Dewi Rieka tampil  sebagai pemateri pamungkas. Perempuan yang akrab disapa mbak Dedew ini merupakan seorang penulis buku dan juga seorang blogger. Dalam ceramahnya, mbak Dedew menyampaikan tentang tips cerdas bermedia sosial.

Menurut mbak Dedew, banyak anak remaja yang menganggap bahwa media sosial itu hanyalah dunia maya, sehingga mereka bisa bertingkah-laku seenaknya. Padahal kendatipun dianggap sebagai dunia maya, apa yang diperbuat di media sosial akan berimbas lagsung pada kehidupan nyata sehari-hari.

Setelah mbak Dedew menutup ceramahnya, moderator baru membuka sesi tanya jawab. Pada sesi ini, acara berlangsung seru. Para peserta melancarkan pertanyaan kepada tiga narasumber yang kemudian dijawabnya dengan gemilang.

Dan begitulah sarasehan ini berakhir. Setelah acara ini bubar, saya banyak bertemu dengan teman-teman yang lain. Di antaranya adalah teman dari Grup Ungaran seperti Pak Edi Tedjo dan istrinya, mbak Erik Murganik. Dengan mbak Mae penyiar radio Rasika. Gunadi guru SMK N Bawen. Dan dengan banyak teman-teman saya dari Unnes.

Bergambar seusai acara bersama teman teman Komunitas Ambarawa
. Dari kiri, Ridho, Mas Pras, Saya, Mas Koko



2 komentar untuk "Turn Back Hoax: Menghalau Hoax Dengan Cerdas Bermedia Sosial"

  1. Ulasannya komplit mas abib, semoga bisa menginspirasi remaja untuk berinternet sehat yaa..

    BalasHapus

Posting Komentar

Berlangganan via Email