Perangkat Sialan Di Balik Layar Kompetisi Menulis Cerpen Musikimia


Komputer Jinjing Saya
Kemarin, untuk pertama kalinya saya menulis cerpen lagi setelah lebih dari empat tahun tidak menulis. Boro-boro untuk menulis, membaca saja sejujurnya saya merasa begitu ogah. Lalu apa yang membuat saya lantas menulis lagi? Pemantik ide menulis itu hanyalah sebuah tiket konser. Saya kepengin menonton konser Sheila on 7 yang kali ini kebetulan akan berpanggung dengan Musikimia.

Beberapa hari lalu, saya melihat akun Insagram Musikimia mengunggah gambar poster yang berisi informasi tentang kompetisi menulis cerpen. Hadiahnya, tiket gratis konser Romantic Tune di Yogyakarta. Cerpen tersebut harus berdasar dari inspirasi setelah mendengar salah satu lagu Musikimia dalam album Intersisi.

Sepertinya lomba ini menarik untuk saya coba. Ini toh juga tidak sulit-sulit amat lantaran tema telah dipersempit: berdasar lagu yang sudah ada. Jadilah saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini.

Lagu yang menjadi mata air tulisan sudah terpilih. Nama-nama tokoh sudah bermunculan. Konflik dan penyelesaian sudah tersusun di kepala. Tinggal menata alur dan siap saya eksekusi. Saya mulai membuka komputer dan mengetik kalimat demi kalimat.

Tepat ketika saya hendak membuka paragraf ke empat. Sesuatu terjadi  dengan komputer saya. Krusornya loncat-loncat tak keruan arah. Ketika krusor ditempatkan di tengah tulisan, tulisan yang berada di belakang krusor mendadak kehapus dengan sendririnya. Saya sebel, lalu jengkel, kemudian mulai frustrasi. Rangkaian cerita yang sudah mengalir menjadi mampet. Ide cerita ambyar.

Saya sudah mencoba mematikan dan menghidupkan ulang komputer, namun ikhtiar itu cumalah membuahkan nihil belaka. Hingga saya menyerah dengan komputer saya.

Di tengah kemenyerahan saya atas komputer yang tak kunjung beres, saya ingat dulu saya pernah merasakan enak sekali menulis menggunakan media ponsel Blackberry. Papan ketik pada ponsel Blackberry membuat pekerjaan mengetik menjadi lebih mudah katimbang papan ketik virtual yang ada pada ponsel Android.

Kebetulan saya masih memiliki ponsel Blackberry, yang meski tipe lawas, namun terakhir kali saya mengoperasikannya semua komponen masih dalam keadaan normal. Hanya saja ponsel itu sudah lama sekali dalam kondisi mati. Saat itu, sejujurnya saya sangsi apakah ponsel itu masih bisa dijalankan dengan baik atau tidak. Namun saya tidak melihat pilihan lain kali itu. Maka ponsel tersebut lalu coba saya nyalakan. Sayang gagal.

Ponsel ini sudah terlalu lama mati. Saya aslinya tidak paham-paham amat perkara teknis elektronika semacam begini. Saya hanya mencoba mengikhtiari terus-terusan benda keramat ini dengan mengisi ulang daya baterainya. Karena saat itu hanya pada benda itulah harapan saya tertambat. Namun sayang, tetap tak ada reaksi. Saya merasa ponsel itu seperti sedang membalas kelakuan saya, ia seakan-akan menyodori harga yang musti saya bayar akibat dulu ia tersisih lalu tercampakkan gara-gara saya lebih memilih menggunakan ponsel Android baru. Pada titik ini, saya sudah mulai melupakan kompetisi menulis cerpen ini.

Saya menjauhi perangkat sialan itu. Sementara charger dan ponsel saya biarkan tetap tersambung. Saya duduk dengan lesu. Tidak lama kemudian, dari jauh saya perhatikan tiba-tiba lampu indikator di atas layar ponsel itu menyala, warna merah. Harapan saya kembali terbit. Saya mendekatinya dan tampak layar ponsel ini mulai hidup. Logo Blackberry muncul dengan bar putih yang berjalan di bawahnya. Bar itu penuh, dan ponsel menyala.

Saya kembali menggali ide-ide yang berkelindan yang barusan telah saya kubur, untung belum dalam. Serpihan-serpihan cerita itu kembali saya bangun dengan sisa tenaga yang saya punya setelah tersedot hampir habis gara-gara akumulasi sebel merasakan musibah yang menimpa komputer dan ponsel saya. Sambil menunggu baterai ponsel Blackberry terisi dengan lumayan.

Ponsel itu ternyata masih bekerja dengan baik. Semuanya normal! Lekas-lekas saya buka fitur aplikasi Microsoft Word Blackberry. Saya mulai mengingat-ingat cerita yang tadi sudah saya tulis hampir empat paragraf.

Menulis dengan hati gembira rupanya membuat otak menjadi lebih encer. Kalimat demi kalimat mengalir cukup deras. Cerita satu tersusun dengan cerita lain dengan gampang.

Dan setelah entah sekian jam saya menulis dengan berbagai posisi, saya sukses mengetik tanda baca titik pada kalimat terakhir cerpen. Tulisan itu rampung dengan gemilang.

Seperti biasa, saya bakal mencampakkan cerpen yang baru saja saya tulis untuk kemudian saya sentuh lagi setidak-tidaknya seminggu berikutnya. Semakin lama semakin ideal. Saya akan membaca cerpen itu sebagai orang lain yang cerewet. Kemudian mulai menyuntingnya. Tapi, kali ini saya tidak mungkin melakukan tradisi itu. Deadline kompetisi menulis ini adalah hari ini juga pukul 23.59. Sementara saya selesai menulis menjelang waktu solat isya.

Tapi saya merasa harus membaca lagi dan menyunting cerpen itu nanti. Maka saya memutuskan untuk pergi ke Ambarawa malam itu juga. Saya ingin melupakan cerpen ini agar tetap bisa menjadi orang lain saat membaca dan menyunting cerpen ini nanti. Kebetulan, di kompleks pasar UKM Goa Maria Kerep Ambarawa sedang acara yang digagas Komunitas Musik Ambarawa. Jaming session dengan tema lagu-lagu slowrock Indonesia 80-90an.

Pulang dari Ambarawa sekira pukul 23.00 saya langsung gas pol membaca dan menyunting cerpen itu dengan kilat dan tergesa-gesa. Saya berhasil mengirim cerpen itu di detik-detik akhir menjelang deadline.

Terlepas dari lolos tidaknya cerpen saya nanti, konser ini, kebetuan memang sedang saya perhitungkan untuk saya datangi. Sepertinya, saya toh akan tetap  nonton kendatipun, misalnya, cerpen saya gagal menjadi pemenang.

*Cerpen yang saya tulis, Anda bisa membacanya di sini.

2 komentar untuk "Perangkat Sialan Di Balik Layar Kompetisi Menulis Cerpen Musikimia"

  1. Wkwkwk, aku karo ngikik bacane ya Mas Habib. Duh duh, pasti jengkil, sebel dan segala sumpah serapah hampir keluar atuh...
    Sabar, sabar, sabar, semoga inilah tanda2 cerpenmu di acc Sheila on 7. Ah ah itu masa lalu banget. Semoga bener2 kepilih ya, amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ndak cuma hampir keluar. Tapi udah keluar semuaaa. haha

      Hapus

Posting Komentar

Berlangganan via Email