Tamia, Kakek Pening, dan Generasi yang Gembira

Ilustrasi Radio Transistor

www.habib.web.id - Tamia, Kakek Pening, dan Generasi yang Gembira

Sebagai generasi 90'an, saya ini hitungannya termasuk golongan penikmat kenangan. Banyak hal yang terjadi saat kanak-kanak menjejakkan kesan yang indah di hati saya. Sehingga selalu terbit perasaan haru yang romantik tiap  kali saya mengenang kejadian-kejadian itu.

Saya masuk sekolah dasar tahun 1998. Lalu setelah enam tahun menempuh pendidikan dasar saya lulus di tahun 2003. Pada rentang waktu inilah kenangan-kenangan indah itu banyak terjadi. Salah satu di antara kenangan manis itu adalah kebiasaan mendengar radio setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.

Sejak kecil saya terbiasa bangun tidur ketika hari masih subuh. Di kampung saya, udara begitu dingin. Letak geografis kampung saya memang berada di dataran tinggi. Lebih-lebih kampung saya berhadapan persis dengan sawah. Jadi, setiap pagi hari angin selalu bertiup semribit tanpa ada penghalang bengunan dan pepohonan besar. Hawa adem ini yang mungkin menjadikan keluarga kami gemar duduk-duduk di depan pawon untuk gegeni sambil mengobrol setelah menunaikan sembahyang subuh dan mengaji. Saya berada di tengah lingkaran itu.

Sementara yang lain tenggelam dengan kopi dan obrolannya, saya yang sulit menjangkau obrolan orang dewasa memilih gegeni sambil mendengar radio. Saya masih ingat, radio yang biasa saya dengarkan adalah sebuah radio transistor merk National.

Antik memang, kala itu, tahun 2000an masih memprimadonakan sebuah radio transistor. Ceritanya begini, radio itu adalah radio milik simbah saya, yang entah sejak kapan beliau miliki. Di rumah kami, waktu itu belum ada televisi. Perabot entertain satu-satunya adalah radio transistor itu. Ditenagai, kalau tidak salah empat baterai ukuran sedang, radio itu hampir sepanjang hari menyala. Acara radio kegemaran saya mengudara setiap pagi. Acara itu adalah TAMIA, akronim dari Taman Mini Anak-anak.

Tamia sudah menjadi semacam moodboster sebelum berangkat sekolah. Tamia adalah acara yang memutarkan lagu-lagu anak. Acara itu dipandu oleh seorang penyiar yang tampil sebagai karakter seorang kakek, namanya Kakek Pening. Sebagai Kakek Pening, ia siaran seakan-akan sebagai seorang kakek yang sedang bertutur kepada cucu-cucunya. Tuturanya hangat dan bersahabat.

Sebagai kanak-kanak, mendengarkan lagu anak adalah satu dari sekian banyak hal yang merupakan sumber kegembiraan. Dan acara Tamia menawarkan kegembiraan itu setiap pagi. Tepat ketika bocah seperti kami menyongsong hari baru.

Lagu-lagu dari penyanyi Eno Lerian, Dea Ananda, Cikita Meidy, Cindy Cenora, Joshua, Agnes Monika, Leony, dan yang paling saya idolakan Maisy Paramisshela mengalun berganti gantian. Di sela-sela pergantian lagu, Kakek Pening selalu membacakan sebuah dongeng yang berbeda setiap harinya. Bagian inilah yang paling saya tunggu dari acara Tamia.

Mendengar dongeng setiap  pagi sungguh membuat hari menjadi lebih berwarna. Cerita yang didongengkan oleh Kakek Pening selalu berhasil menghidupkan imajinasi kami yang mendengarnya. Gara-gara ini pula saya sering ke kamar mandi dengan menenteng radio transistor itu. Saya mandi sambil tetap mendengar dongeng.

Di sekolah, saya tidak sendiri menjadi  penggemar acara Tamia. Beberapa teman yang lain rupanya juga mendengar acara serupa setiap pagi. Saya masih ingat teman saya Tyas juga pernah membicarakan acara ini.

Sedikit catatan soal Tyas, banyak teman saya yang lain sepakat bahwa Tyas kecil memiliki rupa yang amat mirip dengan penyanyi cilik Maisy. Kini Tyas dan Maisy sama-sama telah dewasa dan sebagaimana Maisy yang kita ketahui sekarang, ternyata Tyas juga berprofesi sama dengan Maisy, mereka sama-sama menjadi dokter.

Begitulah acara Tamia telah mewarnai masa kecil kami. Saya tidak tahu apakah sekarang acara Tamia masih mengudara atau tidak. Terakhir kali pada tahun 2012, ketika saya tengah nyetir di minggu pagi, saya tidak sengaja mendengar dari radio mobil lagu anak yang dilanjutkan jingle acara Tamia Taman Mini Anak-anak. Saluran itu ada di frekuesni 99.9 FM yang segera saya tahu itu adalah chanel Suara Salatiga. Di antara sampean apakah ada yang tahu masih mengudarakah Tamia?


6 komentar untuk "Tamia, Kakek Pening, dan Generasi yang Gembira"

  1. Mantaaab.....membangkitkan kenangan lama
    Sesekali sempat dengar juga celoteh si Kakek Pening.....he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir. Kakek Pening memang legend. hehe

      Hapus
  2. beda dengan jaman sekarang ya gan ? generasi merunduk ... oya visit blog ane jg http://lowongansemarangku.blogspot.com salam bloger

    BalasHapus
  3. Wah, tak kiro mobil-mobilan Tamiya 4WD yang ada filmnya Yon Kuro itu! Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Berlangganan via Email